Peran Orang Tua dalam Memilih Lingkungan Anak
Peran Orang Tua dalam Memilih Lingkungan Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 19 Safar 1448 H / 4 Agustus 2026 M.
Kajian Tentang Peran Orang Tua dalam Memilih Lingkungan Anak
Anak belum cukup bijaksana dan belum memiliki kemampuan yang memadai untuk menyeleksi lingkungan serta pergaulannya. Hal ini disebabkan keterbatasan ilmu, pengalaman, dan kepolosannya. Ia mungkin belum mampu memilah dan memilih teman pergaulan serta lingkungan yang baik.
Karena itu, orang tua wajib terlibat dalam pemilihan teman dan lingkungan bagi anak-anak mereka. Anak tidak boleh dilepas begitu saja untuk mencari dan memilih teman serta lingkungan bagi dirinya sendiri. Sikap seperti itu sangat berbahaya.
Tiga Lingkungan Pendidikan Anak
Pada masa ini, lingkungan di luar rumah tidak dapat sepenuhnya dipercaya untuk pendidikan anak. Lingkungan pendidikan ada tiga: rumah, sekolah, serta lingkungan di luar rumah dan sekolah.
Lingkungan yang paling dapat dipercaya sebagai tempat pendidikan yang baik bagi anak adalah rumah. Adapun di luar rumah, orang tua tidak sendirian mendidik anak. Ada tangan-tangan lain yang ikut campur dalam pendidikan anak-anak.
Menyerahkan anak untuk memilih lingkungan dan pergaulannya sendiri merupakan tindakan yang sangat berisiko. Kondisi di luar rumah saat ini tidak baik dan tidak aman bagi anak-anak. Karena itu, orang tua tidak boleh berlepas tangan, tidak peduli, atau membiarkan anak jatuh ke dalam lingkungan dan pergaulan yang buruk.
Memilih Teman yang Saleh
Anak perlu dibimbing agar selektif dalam memilih teman dan lingkungan. Ia tidak boleh dekat dengan teman-teman yang buruk dan tidak baik akhlaknya. Ia harus diarahkan untuk berteman dengan anak-anak yang saleh dan berakhlak mulia.
Pengaruh lingkungan dan pergaulan sangat besar. Seseorang akan mengikuti kebiasaan lingkungan dan pergaulannya. Lingkungan pergaulan sangat mewarnai kehidupan anak.
Orang tua tidak dapat sepenuhnya percaya bahwa anak mampu menyaring, melindungi, dan memproteksi dirinya dari pengaruh buruk di luar rumah. Terlebih apabila rumah tidak berfungsi dengan baik sebagai tempat penyaring racun-racun yang didapat anak dari luar.
Banyak orang tua mengeluhkan anaknya mendapat kosakata baru, sifat baru, dan perangai baru dari luar rumah karena pengaruh pergaulan. Banyak anak menjadi korban pergaulan.
Keadaan ini memang dilematis. Orang tua tidak ingin anaknya kurang pergaulan, tidak mengenal manusia, dan tidak berinteraksi dengan orang lain. Namun, di sisi lain, orang tua juga tidak ingin anaknya menjadi korban pergaulan. Banyak kisah tragis terjadi pada anak-anak akibat pergaulan.
Tantangan Pergaulan Anak di Dunia Maya
Tantangan orang tua pada masa ini semakin besar karena lingkungan pergaulan anak jauh lebih luas daripada dahulu. Pada masa sebelumnya tidak ada media sosial, internet, dan dunia maya. Kini keberadaan anak di dunia maya sering kali lebih dominan daripada di dunia nyata.
Pergaulan anak di dunia maya dapat lebih luas daripada pergaulannya di dunia nyata. Lingkungan itu seakan tanpa batas. Orang yang berinteraksi dengan anak pun lebih banyak, sementara identitas mereka sering tidak jelas.
Seorang anak dapat merasa berteman dengan sesama perempuan karena gambar profilnya menunjukkan perempuan. Namun, bisa saja pemilik akun tersebut sebenarnya laki-laki. Dunia maya menyimpan banyak ketidakjelasan yang tidak mudah diketahui.
Karena keluguan, anak mudah tertipu. Dalam keadaan seperti ini, campur tangan orang tua menjadi wajib. Pandangan bahwa anak tidak boleh dibatasi, tidak boleh diarahkan, dan orang tua tidak boleh ikut campur dalam urusan pergaulan serta komunitasnya adalah pandangan yang keliru.
Sikap lepas tangan orang tua pada masa ini sangat berbahaya, terlebih jika pendidikan di rumah lemah atau bahkan tidak ada. Jika demikian, yang akan mewarnai anak adalah lingkungan pergaulan di luar rumah, termasuk dunia maya, yang keadaannya lebih buas dan ganas.
Kewaspadaan Orang Tua terhadap Media Sosial
Orang tua tidak mengetahui apa yang ada di balik layar. Media sosial adalah dunia tanpa batas. Banyak kasus menunjukkan anak-anak menjadi korban kejahatan di dunia maya, lalu dampaknya terjadi di dunia nyata. Peristiwa seperti itu tentu tidak diharapkan, tetapi dapat terjadi karena kelengahan anak atau kelalaian orang tua.
Karena itu, orang tua harus berhati-hati dan waspada. Jangan lengah, sebab apa pun dapat terjadi. Ini bukan sekadar kabar bohong. Banyak kejadian telah menimpa anak-anak kaum muslimin. Sikap berhati-hati dan waspada lebih baik, karena mencegah lebih baik daripada mengobati.
Pergaulan, cepat atau lambat, akan memberi warna dan pengaruh kepada anak. Pengaruh itu dapat dimulai dari hal-hal kecil. Tabiat dan watak terbentuk melalui pergaulan serta interaksi anak dengan lingkungan sekitarnya.
Orang yang dekat dengan teman saleh dan baik akan terpengaruh oleh kesalehannya. Sebaliknya, orang yang dekat dengan teman fasik dan ahli maksiat akan terpengaruh oleh kefasikannya.
Banyak orang yang semula baik dan saleh, lambat laun meninggalkan kebaikan yang pernah dimilikinya. Ia berubah menjadi lalai, buruk, dan mudah berbuat dosa. Semua itu terjadi karena pengaruh teman-teman buruk di sekitarnya. Banyak anak mengenal rokok, bahkan narkoba, dari pergaulan.
Pengawasan Tidak Bergantung pada Tempat
Kewaspadaan tidak hanya terkait tempat yang dianggap berbahaya. Jika suatu tempat sudah diketahui berbahaya, orang tua biasanya lebih waspada. Namun, tempat yang dianggap baik tidak boleh membuat orang tua lalai.
Di masjid pun terdapat beraneka ragam orang, sehingga orang tua tetap perlu mengawasi anak-anaknya. Demikian pula aktivitas anak di dunia maya. Sebagian orang tua hanya melihat sepintas dan tidak memperhatikan secara rinci.
Ada orang tua yang melihat anaknya membuka situs beraksara Arab, lalu mengira semuanya aman karena bukan situs dewasa, situs pornografi, atau situs yang tampak berbahaya. Sikap seperti ini dapat membuat orang tua lengah.
Situs berbahasa Arab belum tentu aman. Bisa saja isinya berasal dari ahli bid’ah, sehingga anak menjadi korban dan terkontaminasi pemikiran bid’ah serta pemikiran sesat. Dunia maya adalah dunia tanpa batas. Semua orang dapat berdakwah, mengajak kepada pemikirannya, keyakinannya, dan kepercayaannya.
Karena itu, orang tua tidak boleh lengah hanya karena melihat anak membuka situs berbahasa Arab. Bisa jadi situs tersebut adalah situs ahli bid’ah, dan hal seperti ini telah terjadi. Anak dapat terpengaruh oleh pemikiran bid’ah akibat kelalaian orang tua. Ketika syubhat sudah masuk ke dalam pemikiran anak, orang tua sering tidak berdaya. Perdebatan pun tidak lagi bermanfaat karena keadaan sudah terlambat. Inilah bentuk keabaian dan kelengahan orang tua yang perlu disoroti.
Membangun Keterbukaan Anak tentang Pergaulan
Orang tua perlu mendampingi dan mengarahkan anak agar mau bercerita tentang teman-temannya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Orang tua harus mengetahui lingkungan anak di dunia maya dan apa saja yang ia buka di sana. Anak bisa saja terpengaruh oleh teman-teman yang membawa pemikiran sesat. Pengaruh seperti ini berbahaya bagi anak.
Sering kali orang tua baru mengetahui keadaan anak setelah terlambat. Untuk memulihkannya sangat sulit. Pikiran yang terkontaminasi bid’ah lebih sulit diluruskan daripada orang yang terkontaminasi maksiat dan dosa. Apalagi jika pemikiran itu telah menyerang dan menjangkiti anak-anak.
Karena itu, orang tua tidak boleh lengah terhadap lingkungan dan pergaulan anak di dunia maya. Pengaruhnya sangat besar, sehingga anak harus terus diawasi, diarahkan, dan diajari cara memilih teman serta lingkungan yang baik.
Anak-anak, karena keluguannya, sering memandang semua hal sebagai sesuatu yang baik. Banyak lingkungan dan pergaulan pada awalnya menawarkan hal-hal yang tampak baik dan seakan tidak bermasalah. Jika tidak berhati-hati, anak dapat tergilas oleh orang-orang yang memiliki agenda di dunia maya.
Membiarkan anak berselancar di dunia maya tanpa pengawasan dan campur tangan orang tua sangat berbahaya.
Pengawasan Bukan Pelanggaran Privasi
Pengawasan terhadap aktivitas anak di dunia maya bukan masalah mengganggu privasi anak, melainkan bagian dari tanggung jawab orang tua. Dalam hal ini diperlukan rasa keadilan.
Jika orang tua memprivasi handphone dan aktivitasnya sendiri di dunia maya, anak akan melihat hal itu lalu melakukan hal yang sama. Ketika orang tua memintanya membuka aktivitas tersebut, anak merasa keberatan karena pengawasan hanya diberlakukan kepada dirinya, bukan kepada orang tua. Akibatnya, ia tidak merasakan keadilan.
Hal itu membuat anak enggan membuka atau memberitahukan kepada orang tua tentang kegiatan dan aktivitasnya di dunia maya, siapa saja teman-temannya, serta komunitas apa yang diikutinya.
Ada kasus anak-anak perempuan yang secara lahir tampak baik karena bersekolah di sekolah Islam atau pondok Islam. Namun, ternyata di balik itu mereka telah terbawa cosplay, K-pop, dan hal-hal semacamnya. Orang tua tidak mengetahuinya.
Ketika sekolah melaporkan keadaan tersebut, sebagian orang tua tidak menerima. Mereka merasa anaknya baik-baik saja. Inilah keadaan orang tua yang lalai dan abai. Saat menerima laporan bahwa anaknya melakukan hal tertentu, mereka bukan mencari solusi bersama sekolah, melainkan marah-marah.
Kerja Sama Rumah dan Sekolah
Masalah anak pada masa ini sangat banyak. Karena itu, rumah dan sekolah harus bekerja sama dengan koordinasi yang rapi.
Koordinasi pertama harus terjalin di rumah antara ayah dan bunda, dengan baik dan tidak tumpang tindih. Koordinasi kedua adalah antara rumah dan sekolah. Keduanya harus tersambung karena ada hal-hal tersembunyi yang baru muncul ketika anak berada di luar rumah, misalnya di sekolah, sementara orang tua tidak mengetahuinya ketika anak berada di rumah.
Kadang-kadang ketika sekolah melapor kepada orang tua, orang tua tidak menerima hingga terjadi pertengkaran antara rumah dan sekolah. Hal ini keliru, karena dua lingkungan pendidikan justru saling bertabrakan.
Di mata anak, keadaan tersebut membingungkan. Lingkungan pendidikan di rumah, yaitu orang tua, berkonfrontasi dengan lingkungan pendidikan di sekolah, yaitu para guru. Padahal keduanya sama-sama lingkungan pendidikan.
Jika hal itu terjadi, anak akan mencari lingkungan pendidikan alternatif. Tidak ada alternatif lain baginya kecuali lingkungan di luar rumah dan sekolah. Lingkungan inilah yang paling berbahaya baginya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Orang tua perlu menyadari dan memahami perbedaan zaman. Generasi tahun 70-an dan 80-an tidak menghadapi tantangan seperti sekarang. Dahulu belum ada dunia maya, internet, media sosial, gadget, dan hal-hal semacam itu. Interaksi masih lebih banyak bersifat satu arah.
Sekarang interaksi sudah multiarah. Anak dapat berinteraksi dengan banyak lingkungan, dan hal itu tidak mudah diawasi.
Pengawasan anak membutuhkan kerja keras, kesabaran, dan ketelitian orang tua. Masalah anak-anak tidak dapat ditangani sendiri.
Keterlibatan Orang Tua dalam Pendidikan Anak di Sekolah
Pendidikan anak di rumah memerlukan dua sosok utama, yaitu ayah dan ibu. Namun, pada masa sekarang, keterlibatan ayah dan ibu saja belum cukup. Pihak lain juga perlu dilibatkan, terutama guru-guru di sekolah.
Konsep yang benar adalah orang tua melibatkan guru di sekolah, bukan guru di sekolah memaksa orang tua untuk terlibat. Kadang-kadang muncul keengganan orang tua untuk dilibatkan dalam pendidikan anaknya. Mereka merasa semua sudah diserahkan kepada sekolah karena telah membayar mahal, sehingga tidak perlu lagi terlibat. Jika diminta terlibat, sebagian orang tua merasa seperti dipaksa.
Sebagian orang tua seolah-olah menganggap semua masalah anak dapat diselesaikan dengan uang. Padahal, uang tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menyelesaikan masalah anak-anak. Sekolah tidak berdaya tanpa dukungan dari rumah. Sebaliknya, rumah pun akan kesulitan jika tidak melibatkan pihak sekolah.
Karena itu, perlu ada kesepahaman dan koordinasi yang baik. Orang tua tidak semestinya merespons permintaan sekolah untuk terlibat dengan rasa keberatan, seolah-olah biaya mahal yang telah dibayar membuat mereka bebas dari tanggung jawab pendidikan anak.
Keterbatasan Sekolah dalam Mengenali Anak
Ketika anak masuk sekolah, pihak sekolah biasanya mengajukan sejumlah pertanyaan kepada orang tua untuk mengenali anak tersebut. Jumlahnya mungkin tidak lebih dari sepuluh, dua puluh, atau dua puluh lima poin. Jumlah itu sangat tidak cukup untuk mengenali anak secara utuh.
Banyak hal tentang anak masih belum diketahui. Karena itu, sering kali ditemukan masalah baru di tengah perjalanan pendidikan. Orang tua pun tidak selalu menceritakan seluruh persoalan anaknya. Akibatnya, penyelesaian masalah anak kadang menemui jalan buntu karena kurangnya informasi dari sekolah dan tidak adanya kerja sama serta koordinasi yang baik dengan rumah. Pendidikan yang diterima anak di sekolah pun menjadi tidak maksimal.
Wajah Asli Anak Tampak di Rumah
Tidak mengherankan jika ketika kembali ke rumah, anak kembali kepada setelan aslinya. Itulah wajah asli anak tersebut. Banyak orang tua mengeluhkan anaknya yang sulit dibangunkan untuk salat Subuh dan masih harus disuruh untuk salat. Padahal, laporan dari sekolah menunjukkan anak tersebut tidak demikian; ia bangun untuk salat Subuh dan mengikuti kegiatan yang ada.
Ketika anak pulang ke rumah lalu perilakunya berbeda, sebagian orang tua mempertanyakan pihak sekolah. Padahal, masalahnya bukan semata-mata di sekolah. Di sekolah, anak terikat dengan peraturan. Mau tidak mau, ia harus mengikuti aturan tersebut, apalagi berada di bawah bayang-bayang sanksi dan hukuman.
Dalam kondisi seperti itu ada unsur keterpaksaan. Perilaku anak di sekolah belum tentu menunjukkan tabiat aslinya. Untuk melihat aslinya, perhatikan keadaan anak di rumah. Karena itu, yang perlu ditanyakan adalah apakah pendidikan di rumah berjalan atau tidak.
Pandangan Keliru tentang Sekolah
Sebagian orang tua menginginkan anak kembali ke rumah dalam keadaan sudah bersih. Mereka membawa anak ke sekolah seperti membawa baju kotor ke penatu. Dalam benak mereka, anak harus pulang dalam keadaan bersih karena mereka sudah membayar. Mereka merasa percuma membayar mahal dan menitipkan anak di sekolah jika anak tetap kembali dalam keadaan kotor.
Cara berpikir seperti ini banyak ditemukan pada orang tua hari ini. Karena itu, melibatkan orang tua dalam urusan sekolah tidak selalu mudah. Ini menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi sekolah. Yang perlu belajar bukan hanya anak, melainkan orang tuanya juga.
Lingkungan Baik Mengubah Seseorang
Pengaruh lingkungan dan pergaulan sangat besar. Sebaliknya, tidak jarang orang yang jahil dan berbuat dosa perlahan terbimbing kepada hidayah dan kebaikan karena pergaulan. Ia berada di lingkungan dan pergaulan yang tepat, lalu berubah menjadi hamba yang baik.
Lingkungan dan pergaulan menjadi faktor penting dalam perubahan seseorang. Di balik itu ada peran pendidik, terutama pendidik di rumah, yaitu orang tua, kemudian keterlibatan guru-guru di sekolah.
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Karena itu, hendaklah masing-masing kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Seseorang berada di atas agama teman dekatnya, yaitu sahabat karib yang selalu bersamanya. Jika berkumpul, ia berkumpul bersama mereka. Itulah teman karib. Pada masa sekarang, kedekatan seperti ini sering tampak dalam bentuk grup. Anak-anak biasanya memiliki grup, dan orang-orang di dalam grup itu adalah teman dekatnya.
Kenalan bisa sangat banyak, sebagaimana banyaknya nomor kontak di telepon genggam. Namun, tidak semua kenalan masuk ke dalam grup. Yang dipilih biasanya orang-orang dekat. Itulah sahabat karib. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa seseorang berada di atas agama sahabat karibnya.
Teman Dekat Membentuk Sifat dan Kebiasaan
Sifat, kebiasaan, tabiat, kelakuan, cara bicara, hingga istilah-istilah yang digunakan seseorang sering kali mengikuti orang-orang yang dekat dengannya, terutama sahabat karibnya. Bahkan, gaya bicara mereka kadang tampak seragam.
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang berada di atas agama teman dekatnya. Maka, hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman dekat.”
Dalam hadits tersebut terdapat perintah falyandzur, yaitu memperhatikan dengan saksama. Nadzar bukan sekadar melihat sekilas. Melihat sekilas disebut rukyah. Adapun nadzar berarti meneliti, menelaah, dan memperhatikan secara lebih mendalam.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan seseorang untuk meneliti siapa yang menjadi teman karibnya. Karena itu, latar belakang dan seluk-beluk calon teman perlu diketahui agar seseorang tidak menjadi korban pergaulan.
Salah satu bentuk nadzar yang perlu dilakukan adalah nadzar terhadap teman. Nadzar tidak hanya terkait calon istri dalam pernikahan. Calon teman pun perlu diteliti, sebagaimana makna perintah dalam hadits tersebut.
Jika diterjemahkan terlalu tekstual, falyandzur sering dipahami sebatas melihat atau memperhatikan. Padahal maksudnya adalah meneliti. Nadzar memiliki makna melihat yang lebih detail daripada rukyah. Secara kamus keduanya dapat berarti melihat, memperhatikan, atau menyaksikan, tetapi nadzar mengandung makna yang lebih dalam, yaitu melihat dengan penelitian dan telaah.
Karena itu, calon istri dinadzar, sedangkan hilal dirukyah. Hilal cukup dilihat sekilas untuk sah disebut rukyah. Tidak perlu diteliti berapa tingginya, berapa besarnya, atau bagaimana bentuknya secara rinci. Berbeda dengan nadzar yang menuntut perhatian lebih mendalam.
Dalam proses menadzar calon istri, seseorang memperhatikan dengan lebih teliti. Bahkan, ia boleh melihat bagian-bagian tertentu yang sebelumnya tidak boleh dilihat karena ada kebutuhan untuk meneliti.
Orang Tua Membantu Anak Meneliti Pergaulan
Orang tua harus membantu anak menadzar lingkungan dan pergaulannya. Pengawasan tidak cukup dilakukan dengan melihat sekilas dari jauh, lalu menyimpulkan bahwa lingkungan atau teman anak tampak baik.
Teman-teman anak dapat diajak datang ke rumah agar orang tua melihat kondisi mereka. Dengan cara itu, orang tua dapat menilai apakah seseorang layak menjadi teman anaknya atau tidak. Dalam urusan ini, orang tua perlu melakukan intervensi yang tepat.
Anak tidak boleh dibiarkan begitu saja mencari teman sendiri tanpa arahan. Banyak orang tua berprinsip demikian. Mereka menyerahkan urusan pertemanan sepenuhnya kepada anak, seolah-olah itu sikap bijaksana.
Sikap tersebut sering muncul karena orang tua malas mengawasi anak. Mereka beralasan anak sudah besar dan mampu memilih teman sendiri. Padahal, ukuran tubuh yang besar tidak menunjukkan kematangan akal. Anak dan remaja masih sering mengedepankan perasaan, nafsu, dan keinginan.
Anak dapat berkata ingin berteman dengan seseorang atau menginginkan ini dan itu. Namun, kebijaksanaan mereka belum sempurna. Karena itu, pilihan pergaulan anak tetap memerlukan bimbingan.
Agama dan Akhlak Terlihat dari Teman Dekat
Makna hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut menunjukkan bahwa agama dan akhlak seseorang dapat diukur dari orang yang menjadi teman dekatnya. Jika teman dekatnya adalah orang-orang saleh, ia berpotensi menjadi saleh. Jika teman dekatnya adalah orang-orang fasik, ia dapat terpengaruh menjadi seperti mereka.
Setiap muslim harus memperhatikan siapa yang ia jadikan teman karib. Dalam kasus anak-anak, mereka tidak dapat melakukan hal itu sendiri. Mereka harus dibantu oleh pendidik, terutama orang tua di rumah.
Pembahasan ini masih berlanjut karena bab ini memuat banyak hal yang perlu dijelaskan, termasuk metode pembelajaran dan langkah-langkah yang harus dilakukan orang tua terkait pemilihan teman dan lingkungan yang baik.
Orang tua juga perlu terus berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengharapkan kebaikan tersebut.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Peran Orang Tua dalam Memilih Lingkungan Anak” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56433-peran-orang-tua-dalam-memilih-lingkungan-anak/